Saturday, June 19, 2010

Nah, Budi Utama ESQ Yang Kedua : Tanggung Jawab. Saat Ini Tanggung Jawab Saya, Kuliah daaaannnn Geser Tali Toga, Sarjanaaa wuhuuu



finally i found it
iya itu dia masalahnya

pesan papa katanya sampai mati
"tidak akan ada hal yang sama antara keinginan hati dengan apa yang diberikan oleh keadaan luar, semoga papa bisa menjadi saksi hidup dika (tidak) akan gagal dengan contoh sikap dika dalam menghadapi masalah"

Bicara soal sikap saya yang seperti 2 adik papa yang sudah gagal dari segi finance, (juga moral, mungkin) saya sudah menyadarinya terlebih dahulu. saya pernah takut akan seperti mereka.

Ternyata itu dia bahasanya tadi yang diatas, itu persamaan saya dengan kedua adik papa, tapi kenapa ujung-ujungnya terkesan saya harus tetap lulus cepat (dengan berapapaun IPK akhir cetusnya), tanggung jawab kah? kepuasan diri kah? apa? apa?
Full Post

Monday, May 17, 2010

Biasanya Orang Sosial Bergerak Karena Banyak Duit, Begitu Kata Mama



Saat bercerita dengan mama tentang mayoritas pengeluaran uang bulanan untuk apa saja.
Alhamdulillah, so far saya merasa sama sekali tidak mengeluarkan untuk hal berbau wasting. Namun tetap komentar orang tua selalu mengingatkan dan berusaha membangun kami anak-anakya yang selalu durhaka.
and do you know what does she talked?
"orang-orang yang ingin bergerak di bidang sosial sebagian besar orang yang telah mapan, sehingga tidak akan ragu untuk mengeluarkan uang untuk kepentingan bersama"
Ya allah semoga, yang aku lakukan adalah sajadah ku untuk mempersiapkan pertemuan denganMu kelak, semoga yang orang lain dapatkan bisa menjadi hal terindah untukku, dan semoga aku bisa menjadi 'orang sosial' yang mama aku maksudkan supaya aku bisa tetap dan terus saling berbagi kebahagiaan lewat apapun yang aku bisa lakukan.
Ya allah engkau yang maha mendengar, engkau yang maha melihat, aku semakin tidak ragu lagi untuk terus berbuat kebaikan.
Jagalah hati ini ya rabb semoga hati ini semakin lembut untuk terus mengucap namaMu dan menghadirkan diriMu dalam setiap helai nafasku. Dan kuatkan lah hati ini agar aku tidak akan pernah menyerah karena syurgaMu hanya menerima orang-orang yang selalu berjuang di jalanMu sampai waktuNya kami kembali padamu.
Full Post
Dari Zero Mind Proces Sampai Proses Marketing



Allah benar benar besar saat kita sadar bahwa kita bukan apa apa.
we just a nothing.
sayang kebesaran Allah jadi terlupakan begitu saja saat hati kita terbelenggu, sedikit saja belenggu itu menutupi hati yang bersih ini.
Makan tidak dapat dipungkiri bahwa ada kebesaran Allah yang kita lupakan.
pada kegiatan akbar Kemarin saya memiliki peran, bersyukurlah kita yang dipilih dan memiliki perran, memiliki andil?
namun mengapa peran itu menjadikan saya sombong, Ya Allah hati ini sesungguhnya tersayat saat melihat kebesaran yang kau tunjukkan lewat segala hal.
hidayah yang kau berikan bukan hanya membuatku malu, akupun sedih Ya Allah.
Aku ingin menjadi hambamu yang tak terbatas Ya Allah, aku ingin bisa mengeluarkan segenap potensi yang kau fitrahkan di dalam hati yang telah aku kotori ini ya Allah.
Ampuni kami ya rabb, kami bukan apa apa.
kami tak bisa apa-apa kecuali tanpamu Ya Allah, bimbinglah kami ya allah, biarkan hati kami benar-benar peka untuk dapat melihat indahnya hidayah-Mu dari segala hal, bahkan seperti stetoskop agar bisa melihat setitik debu ciptaan-Mu untuk mengingatkan kami akan kebesaranMu Allah Ya-Kabir


1. bagaimana cara menjadi marketing yang tidak lupa bahwa kita bukan 'menjual' melainkan mengajak menuju kebaikan dengan menunjukkan bahwa tools yang kita miliki adalah menawarkan mendekatkan kepada kebaikan
Full Post

Monday, April 19, 2010

Merasa Tubuh Ini Dipenuhi Gumpalan Ide, Namun Tak Bergerak Hingga Terasa Useless



Ah lagi-lagi selalu banyak isu dan ide sampai bergetar memikirkan apa yang belum dituangkan. Kembali saya sadar (untuk yang kesekian kalinya dan tidak pernah terbenahi) bahwa tidak perlu melakukan semua secara besar-besaran. Selesaikan satu per satu dengan sebaik mungkin. Nikmati yang ada, persiapkan yang terbaik untuk apapun setelahnya, kita lemah. Suatu saat kelemahan bisa jadi kekuatan dan mungkin sebaliknya, cukup abstrak bukan? jadi racun aja kalau dipikirin doang, cukup santai dan nikmati
Full Post

Wednesday, March 10, 2010

Peningkatan Prduktifitas



Saat ini, itulah yang sedang saya fikirkan, bukan hanya saya, namun semua manusia.
Pelajar, Mahasiswa, Karyawan, Pejabat, apapun pekerjaan tidak terkecuali.
Bukankah ALLAH menginginkan kita berusaha sekeras mungkin untuk mencapai hasil maksimal? Lantas mengapa kita masih mengeluh, Ya ALLAH nafsu dunia kami masih besar, sehingga saat kami menemukan kesulitan kami seperti manusia yang hilang akal. Padahal sudah fitrah kami bekerja keras untuk suatu kebahagiaan. Seperti pelajar dan mahasiswa yang belajar sungguh-sungguh, bukankah mereka belajar agar semakin mendekati-Mu ALLAH Ya Rosyiid. Bahkan seorang penjaga keamanan pun bukankah mereka menjaga untuk semata-mata mengeluarkan fitrah mereka agar semakin dekat dengan-Mu ALLAH Ya Mu'min Ya Muhaimin. Sesungguhnya kami hina tanpa-Mu Ya ALLAH, sesungguhnya kami akan tersesat dan tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa-Mu Ya ALLAH, berilah selalu kami petunjuk Ya ALLAH Ya Hadii. Jangan palingkan wajah-Mu dari kami yang hina ini, yang penuh telah memenuhi hati dengan dosa Ya ALLAH.
Kami ingin menjadi hamba-Mu yang engaku ridhoi, menjadi umat Rasul-Mu yangtidak pernah menyerah meninggikan nama-Mu, menyampaikan kebenaran melalui mengeluarkan dari fitrah yang engkau berikan. Ya ALLAH, cintaku terhadap-Mu tidak akan pernah bisa menjadikanku pantas menuju syurga-Mu, namun jangan jadikan kekhilafan-ku sebagai pemutus tali syurga-Mu Ya ALLAH. Jadikanlah yang kami lakukan semata-mata sebagai ibadah kepada-Mu maka Lindungi kami, Sayangi kami Ya ALLAH.
Full Post

Sunday, February 28, 2010

Televisi Dan Anak



Sesaat saya merasa bisa melakukan sesuatu.
menatap dalam-dalam masa depan saya pribadi, keluarga saya, kelompok saya, kota saya, lalu INDONESIA !
Semua tergambar dalam mata seperti lorong mesin waktu.
Semoga yang saya lakukan tetap pada orbit-Nya.

Hari minggu berjalan seperti biasanya, menonton tv. Ini merupakan kerjaan yang sudah menjadi alam bawah sadar saya sejak kecil. Televisi benar-benar menjadi teman saya saat saya merasa benar-benar tidak ada teman berbicara. Rasanya saat itu saya berbicara kepada televisi. Sampai saya bisa merasakan peran, masuk kedalam imajinasi lalu mengiringi sampai mimpi.
Beragam jenis acara telah saya tonton. Tidak bisa dibohongi, berbagai adegan seperti pornografi, pembunuhan, pencurian, penyelewengan dan kekerasan itu telah saya lihat sejak kecil.

Saat ini, saya merasakan adanya dampak besar akibat terlalu "berteman" dengan televisi tersebut. Yaitu saya merasa jadi memiliki perasaan dan penghayatan yang cukup tinggi, namun selama ini saya menganggap itu suatu kelebihan manusia. Dalam perjalanan film "one missed call" yang baru saja selesai saya tonton di HBO Signatured, saya merasa kelebihan saya tersebut menguji saya untuk mengeluarkan energi besar saat sebuah perasaan atau penghayatan membutuhkan kontrol tinggi agar tidak mempengaruhi beban pikiran saya. Film ini bercerita tentang sebuah kisah kematian oleh sebuah misteri kematian yang belum terungkapkan. Mungkin kita mengenal sebagai "arwah penasaran". Apapun istilahnya, bukan itu yang saya ingin ceritakan hehe.
Dalam film ini diceritakan banyak sekali serangan-serangan psikologis sebelum kematian itu datang. Benarkah psikologis begitu besar serangannya hingga merasa tidak ada lagi yang bisa dilakukan di dunia ini kecuali menjemput kematian. Rasaya semua sudah berakhir saat psikologis itu menyerang.
Di film tersebut sempat keluar kata-kata "nilai spiritual" saat seorang pendeta hendak mengeluarkan "arwah penasaran" dari objek yang diduga mengalami gangguan psikologis. Artinya saya ingin menarik kesimpulan sedikit, bahwa apapun yang terjadi jangan lupakan sebuah spiritualitas yang sudah seharusnya mengontrol kita dari dalam sebelum emosional dan intelektulitas membentuk suatu aktifitas nyata.

Terlepas dari nilai spiritual, saya ingin bercerita sedikit tentang diri saya. Terkait dengan cerita diatas soal saya yang berteman cukup akrab dengan televisi. Terkait juga sebuah mimpi saya bisa melakukan sesuatu untuk orang lain, yang dimulai dari diri saya sendiri hingga perjuangan saya bisa sampai pada perjuangan Merah Putih yang akan selalu berkibar walaupun angin besar menerjang di tiang tertinggi sana. saya merasa telah lebih mengenal siapa saya setelah saya mengenal nilai spiritual. Luar biasa hingga saya merasakan perubahan dalam pengendalian diri walaupun belum significant, tapi inilah nilai proses yang harus dinikmati. ALhamdulillah saya pun mulai bisa dengan tenang menulis untuk menuangkan sesuatu yang bisa saya bagi kepada orang lain walau saya bukan siapa siapa.

Cerita saya ini benar-benar terlintas saat saya menonton film "one missed call" yang saya cerirtakan diatas tadi. Kok saya merasa mendapatkan jawaban untuk diri saya sendiri. Saya merasa wah lagi lagi menonton film thriller horor begini akan membuat saya keringet dingin hingga sesak nafas seperti biasa. Namun kok saya bisa mengendalikan diri bahkan berusaha mengambil sebuah nilai yang mungkin bisa berguna khususnya untuk saya umumya untuk orang lain.
Saat saya menonton banyak sekali input yang saya terima untuk dirangsang oleh otak lalu otak seperti memerintahkan sebuah pergerakan dalam diri sampai pergerakan fisik seperti keringetan yang tadi saya paparkan diatas. Rasanya saya mulai bisa memetakan apa yang harus saya perbaiki dan katakan kepada orang lain. Dulu saat saya SD orang tua saya sering sekali keluar kota demi mencapai target MLM yang dijalaninya, saat itu yang saya tahu papa mama bukan menginggalkan saya, tapi berusaha mencari uang agar saat pulang kerumah saya bisa punya mainan atau hal yang saya inginkan lainnya. Saat saya ditinggal oleh mereka di rumah, seperti yang saya bilang televisi merupakan teman saya. Sekarang saya merasa beragam tayangan televisi yang saya cerna tanpa sadar telah membangun Perasaan dan Penghayatan saya hingga seperti ini. Banyak orang yang bilang "kebanayakan nonton film sih" kalau ada yang seorang bercerita kepadanya kisah melankolinya. Ya mungkin itu yang saya alami, saya kebanyakan nonton film. Apalagi tanpa bimbingan orang tua yang saat itu sering keluar kota mencari nafkah. Rasanya ingin bisa memperbaiki saat itu, selama ini saya merasa saya adalah anak yang manja. Tapi saat ini saya ingin bisa menjadi anak yang lebih manja, yang bisa bercerita jujur dengan orang tua terhadap apa yang terjadi pada saya dimulai dari bercerita apa perasaan saya setelah menonton film dari judul A-Z. Loncat hingga saya beranjak SMP dan SMA, kali ini bukan orang tua saya yang lagi lagi kerja keluar kota. Namun saya yang sekolah diluar kota, dan ini mengambil banyak waktu dan kesempatan saya untuk bisa lebih jujur kepada mama papa untuk bisa bercerita untuk mengungkapkan apa saja perasaan saya.
Saya yang merasa manja ini ternyata tidak benar-benar manja terhadap orang tua karena saya tidak terlatih untuk bisa jujur kepada orang tua saya.
Woow ternyata dampaknya begitu besar. Saat ini saya masih merasa saya anak yang suka berimajinasi tinggi hingga terkadang mengganggu pikiran saya sendiri. Itu akibat saya tidak pandai mengungkapkan sesuatu dengan jujur. Saat saya bisa mengungkapkan dan berusaha memperbaiki diri saya, saya ingin bisa berbagi kepada orang lain. Saya belajar menulis agar bisa menghasilkan sesuatu dan berbuat sesuatu.

Gimana caranya biar saya bisa bercerita kepada banyak orang tentang (ini yang ada di pikiran saya saat ini) :
1. Anak bisa dengan enak share terhadap orang tua apa yang di rasakan
2. Anak bisa mengenali seperti apa keadaan dengan mengenal nilai spiritual
Full Post

Wednesday, January 13, 2010

Tasbih, Tahmid, Tahlil dan Takbir



Subhanallah, Alhamdulillah, Lailaha illallah, Allah Akbar.
Sungguh tidak ada yang bisa mengalahkan kebesaran Nama-Mu Ya Rabb.

Sedikit bercerita, baru saja saya menonton ayat-ayat cinta yang baru selesai saya download tadi pagi di komputer saya.
Setelah itu hanya Kalimat Tasbih, Tahmid, Tahlil dan Takbir yang bisa terucap sambil diikuti dengan sedikit tetesan air mata.
Saya kagum dan takjub, sungguh benar-benar terharu saat Kebesaran Allah bisa diceritakan dengan sedemikian indah melalui film. Kadang-kadang saya takut, saat saya bisa menyebut nama-Mu tapi melalui objek film seperti demikian yang saya ceritakan diatas. Apakah yang benar-benar saya tangisi, Kekaguman terhadap-Mu atau kesedihan dalam mengikuti sebuah cerita kehidupan Mahasiswa Muslim yang diuji Imannya melalui Ayat-ayat cinta-Mu ya Allah. Saya jadi menyambung-nyambungkan hidup saya dengan cerita demikian, apakah mungkin itu adalah bukti betapa lemahnya saya dalam beriman kepada-Mu.

Saat ini kami terpana dengan fana-nya dunia saat ini ya allah. Kemudahan mendpatkan sandang, pangan, papan serta kemudahan komunikasi di era teknologi saat ini malah menjadi kelemahan untuk kami. Kumandang Adzan terdengar dimana-mana saat ini, banyak masjid bahkan sampai sangat berdekatan. Saat adzan saling bersahutan karena begitu dekatnya jarak antara masjid pun tidak sering berhasil melangkahkan orang orang sekitar untuk meninggalkan jual beli sejenak dan solat. Bahkan sampai banyak masjid besar yang indah, wangi, nyaman, lengkap untuk peminjaman sarung atau mukena, penitipan sandal. Sampai ada security yang ditugaskan menjaga kendaraan agar Jamaah tidak pecah konsentrasi memikirkan kendaraan. Namun tetap Jamaah shalat tidak mencapai setengah bahkan seperempat dari catatan Jumlah umat muslim yang tercatat di arsip dari Kartu Tanda Pengenal (Read: KTP) penduduk Indonesia. Bagaimana dengan keadaan akhir zaman nanti? Sungguh luar biasa Rahasia-Mu Ya Allah. Engkau telah merencanakan dan mengatur ini dengan segala kuasa-Mu, ditengah kesulitan manusia dan ditengah perbuatan hina yang manusia lakukan engkau tetap memberikan kami petunjuk dan kekuatan melalui apa yang terjadi di depan kami, kalau disambungkan dengan cerita pada ayat-ayat cinta atau apapun masalah yang ada saat ini, apa lagi yang kita ragukan dari Allah? sungguh peringatan dan kebesaran nama-Mu ada disetiap jengkal dan selalu ada dalam waktu apapun ya Allah. Semoga tulisan saya tidak hanya hangat-hangat kotoran ayam khususnya saya dan umumnya bagi yang membaca.
Full Post

Monday, January 04, 2010

Kata mama "dibalik target kecil ada sesuatu besar yang menunggu"



Entri pertama di tahun 2010 nih, berarti harus ngomongin resolusi untuk 1 tahun kedepan. Hari minggu 3 Jan kemarin, saat pulang mengajar papa dengan tiba-tiba mengajak kami dan keluarga untuk mencari makan diluar rumah. Acara makan kami berjalan seperti biasa sebagaimana acara makan, datang ke tempat makan, mencari tempat duduk, memesan makanan, menunggu lalu makan. Namun ada alasan dibalik kenapa papa sering kali mengajak pergi keluar keluarga untuk acara kecil seperti makan diluar. Papa punya cara sendiri dalam mengeratkan hubungan keluarga, mencari kegiatan kecil seperti bersepeda bersama atau makan bersama atau sekedar menonton acara TV bersama. Lalu acara makan kami pun tepat mengenai tujuan papa, di meja makan yang penuh dengan piring kotor dan makanan papa yang tidak habis kami mengisi waktu dengan tertawa kecil karena diskusi kecil yang memang sering kami lakukan saat ada kesempatan seperti ini. Jadi inilah awal dari refleksi saya di tahun 2010

Kata mama di meja itu, "dibalik target kecil ada sesuatu besar yang menunggu". Jadi resolusi 2010 saya hanya menghilangkan tics di wajah saya. Sesaat saya malu untuk menulis disini saya memiliki tics (seperti gangguan kecil yang muncul dari kebiasaan tubuh ini mencari sesuatu gerakan yang nyaman). Namun kata papa di meja itu, "dika selalu memiliki tujuan tapi ditengah jalan dika jarang sekali menengok ke belakang melihat kembali apa tujuan dika". Dari dulu papa selalu menyuruh saya tulis besar-besar tujuan dika, tempel di tembok untuk jadi reminder. jangan seperti saat UN atau dika ikut olimpiade Matematika dulu, dika hanya mengatakan saya ingin terbaik saya ingin ini, tapi itu hanya diangan angan karena tidak ada pengingat nyata seperti bentuk tulisan bahwa dika memiliki tujuan, harusnya dika tulis dan lihat tulisan itu agar selalu terekam dan teringatkan apa tujuan dika. Untung saya berhasil lulus dari UN SMA walau hanya dengan berdoa pasrah dan mengunggu teman saya memiringkan kertas jawabannya, sekarang saya sudah menuliskan dan mempublikasikan apa tujuan yang berhubungan dengan kelemahan saya. Namun saat saya mengatakan banyak hal-hal yang tidak dika sanggupi dan tidak bisa dinikmati dalam perjalanan menuju target-target dika terdahulu, sambil mentertawakan saya dengan nyengirnya yang khas mas andhit memotong "dika terlalu banyak mikir, nikmati yang dika jalani, capai dari yang kecil-kecil aja". Sambil melanjutkan cerita-cerita kecil sisa makanan kami minta bungkus agar bisa dimanfaatkan di rumah, dengan syukur atas keadaan bahagia kami meninggalkan meja makan dan segera pulang karena khawatir nenek saya di rumah menunggu terlalu lama Pizza Meat Lovernya.
Full Post