Saturday, June 19, 2010

Gejolak Gejolak Entrepreneur (I Think), Pengen Jadi Macem Bob Sadino ~~



seni rupa, dkv
celana jenas robek, sepatu suede, kaca mata besar !
gue mau tau hidup kalian pake hati ga?
seperti apa dan siapa yang menahkoda hidup kalian? hah?
kalo gue bisa hidup sesantai kalian tapi punya makna sebesar yang gue harapkan,
2012 anak muda semua ngikutin gue,
i'm not really followers !
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
i have something nice but i dont have any idea to realize it ! face it !
you are a bitch
Full Post
Kata-kata Mas Andhit Yang Terus Terngiang "Kuliah Bukan Cuma Konteks Latar Pendidikan, Tapi Buat Orang Tua Juga" huaaaaa sedih juga



banci online dong hahhah
giliran gue nih yang merasa useless,
ternyata emang bokap pengennya gue sarjana cepet cepet, hadeeeuh.
pake bawa bawa umur papa yang gak lama lagi lah, hadeeeuh jadi konotasinya gue harus cepet cepet lulus. tapi dibilangnya gpp kalo nilai jelek, tapi dibilangnya harus tanggung jawab, agak confused juga yah.
Full Post
Nah, Budi Utama ESQ Yang Kedua : Tanggung Jawab. Saat Ini Tanggung Jawab Saya, Kuliah daaaannnn Geser Tali Toga, Sarjanaaa wuhuuu



finally i found it
iya itu dia masalahnya

pesan papa katanya sampai mati
"tidak akan ada hal yang sama antara keinginan hati dengan apa yang diberikan oleh keadaan luar, semoga papa bisa menjadi saksi hidup dika (tidak) akan gagal dengan contoh sikap dika dalam menghadapi masalah"

Bicara soal sikap saya yang seperti 2 adik papa yang sudah gagal dari segi finance, (juga moral, mungkin) saya sudah menyadarinya terlebih dahulu. saya pernah takut akan seperti mereka.

Ternyata itu dia bahasanya tadi yang diatas, itu persamaan saya dengan kedua adik papa, tapi kenapa ujung-ujungnya terkesan saya harus tetap lulus cepat (dengan berapapaun IPK akhir cetusnya), tanggung jawab kah? kepuasan diri kah? apa? apa?
Full Post

Monday, May 17, 2010

Biasanya Orang Sosial Bergerak Karena Banyak Duit, Begitu Kata Mama



Saat bercerita dengan mama tentang mayoritas pengeluaran uang bulanan untuk apa saja.
Alhamdulillah, so far saya merasa sama sekali tidak mengeluarkan untuk hal berbau wasting. Namun tetap komentar orang tua selalu mengingatkan dan berusaha membangun kami anak-anakya yang selalu durhaka.
and do you know what does she talked?
"orang-orang yang ingin bergerak di bidang sosial sebagian besar orang yang telah mapan, sehingga tidak akan ragu untuk mengeluarkan uang untuk kepentingan bersama"
Ya allah semoga, yang aku lakukan adalah sajadah ku untuk mempersiapkan pertemuan denganMu kelak, semoga yang orang lain dapatkan bisa menjadi hal terindah untukku, dan semoga aku bisa menjadi 'orang sosial' yang mama aku maksudkan supaya aku bisa tetap dan terus saling berbagi kebahagiaan lewat apapun yang aku bisa lakukan.
Ya allah engkau yang maha mendengar, engkau yang maha melihat, aku semakin tidak ragu lagi untuk terus berbuat kebaikan.
Jagalah hati ini ya rabb semoga hati ini semakin lembut untuk terus mengucap namaMu dan menghadirkan diriMu dalam setiap helai nafasku. Dan kuatkan lah hati ini agar aku tidak akan pernah menyerah karena syurgaMu hanya menerima orang-orang yang selalu berjuang di jalanMu sampai waktuNya kami kembali padamu.
Full Post
Dari Zero Mind Proces Sampai Proses Marketing



Allah benar benar besar saat kita sadar bahwa kita bukan apa apa.
we just a nothing.
sayang kebesaran Allah jadi terlupakan begitu saja saat hati kita terbelenggu, sedikit saja belenggu itu menutupi hati yang bersih ini.
Makan tidak dapat dipungkiri bahwa ada kebesaran Allah yang kita lupakan.
pada kegiatan akbar Kemarin saya memiliki peran, bersyukurlah kita yang dipilih dan memiliki perran, memiliki andil?
namun mengapa peran itu menjadikan saya sombong, Ya Allah hati ini sesungguhnya tersayat saat melihat kebesaran yang kau tunjukkan lewat segala hal.
hidayah yang kau berikan bukan hanya membuatku malu, akupun sedih Ya Allah.
Aku ingin menjadi hambamu yang tak terbatas Ya Allah, aku ingin bisa mengeluarkan segenap potensi yang kau fitrahkan di dalam hati yang telah aku kotori ini ya Allah.
Ampuni kami ya rabb, kami bukan apa apa.
kami tak bisa apa-apa kecuali tanpamu Ya Allah, bimbinglah kami ya allah, biarkan hati kami benar-benar peka untuk dapat melihat indahnya hidayah-Mu dari segala hal, bahkan seperti stetoskop agar bisa melihat setitik debu ciptaan-Mu untuk mengingatkan kami akan kebesaranMu Allah Ya-Kabir


1. bagaimana cara menjadi marketing yang tidak lupa bahwa kita bukan 'menjual' melainkan mengajak menuju kebaikan dengan menunjukkan bahwa tools yang kita miliki adalah menawarkan mendekatkan kepada kebaikan
Full Post

Monday, April 19, 2010

Merasa Tubuh Ini Dipenuhi Gumpalan Ide, Namun Tak Bergerak Hingga Terasa Useless



Ah lagi-lagi selalu banyak isu dan ide sampai bergetar memikirkan apa yang belum dituangkan. Kembali saya sadar (untuk yang kesekian kalinya dan tidak pernah terbenahi) bahwa tidak perlu melakukan semua secara besar-besaran. Selesaikan satu per satu dengan sebaik mungkin. Nikmati yang ada, persiapkan yang terbaik untuk apapun setelahnya, kita lemah. Suatu saat kelemahan bisa jadi kekuatan dan mungkin sebaliknya, cukup abstrak bukan? jadi racun aja kalau dipikirin doang, cukup santai dan nikmati
Full Post

Wednesday, March 10, 2010

Peningkatan Prduktifitas



Saat ini, itulah yang sedang saya fikirkan, bukan hanya saya, namun semua manusia.
Pelajar, Mahasiswa, Karyawan, Pejabat, apapun pekerjaan tidak terkecuali.
Bukankah ALLAH menginginkan kita berusaha sekeras mungkin untuk mencapai hasil maksimal? Lantas mengapa kita masih mengeluh, Ya ALLAH nafsu dunia kami masih besar, sehingga saat kami menemukan kesulitan kami seperti manusia yang hilang akal. Padahal sudah fitrah kami bekerja keras untuk suatu kebahagiaan. Seperti pelajar dan mahasiswa yang belajar sungguh-sungguh, bukankah mereka belajar agar semakin mendekati-Mu ALLAH Ya Rosyiid. Bahkan seorang penjaga keamanan pun bukankah mereka menjaga untuk semata-mata mengeluarkan fitrah mereka agar semakin dekat dengan-Mu ALLAH Ya Mu'min Ya Muhaimin. Sesungguhnya kami hina tanpa-Mu Ya ALLAH, sesungguhnya kami akan tersesat dan tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa-Mu Ya ALLAH, berilah selalu kami petunjuk Ya ALLAH Ya Hadii. Jangan palingkan wajah-Mu dari kami yang hina ini, yang penuh telah memenuhi hati dengan dosa Ya ALLAH.
Kami ingin menjadi hamba-Mu yang engaku ridhoi, menjadi umat Rasul-Mu yangtidak pernah menyerah meninggikan nama-Mu, menyampaikan kebenaran melalui mengeluarkan dari fitrah yang engkau berikan. Ya ALLAH, cintaku terhadap-Mu tidak akan pernah bisa menjadikanku pantas menuju syurga-Mu, namun jangan jadikan kekhilafan-ku sebagai pemutus tali syurga-Mu Ya ALLAH. Jadikanlah yang kami lakukan semata-mata sebagai ibadah kepada-Mu maka Lindungi kami, Sayangi kami Ya ALLAH.
Full Post

Sunday, February 28, 2010

Televisi Dan Anak



Sesaat saya merasa bisa melakukan sesuatu.
menatap dalam-dalam masa depan saya pribadi, keluarga saya, kelompok saya, kota saya, lalu INDONESIA !
Semua tergambar dalam mata seperti lorong mesin waktu.
Semoga yang saya lakukan tetap pada orbit-Nya.

Hari minggu berjalan seperti biasanya, menonton tv. Ini merupakan kerjaan yang sudah menjadi alam bawah sadar saya sejak kecil. Televisi benar-benar menjadi teman saya saat saya merasa benar-benar tidak ada teman berbicara. Rasanya saat itu saya berbicara kepada televisi. Sampai saya bisa merasakan peran, masuk kedalam imajinasi lalu mengiringi sampai mimpi.
Beragam jenis acara telah saya tonton. Tidak bisa dibohongi, berbagai adegan seperti pornografi, pembunuhan, pencurian, penyelewengan dan kekerasan itu telah saya lihat sejak kecil.

Saat ini, saya merasakan adanya dampak besar akibat terlalu "berteman" dengan televisi tersebut. Yaitu saya merasa jadi memiliki perasaan dan penghayatan yang cukup tinggi, namun selama ini saya menganggap itu suatu kelebihan manusia. Dalam perjalanan film "one missed call" yang baru saja selesai saya tonton di HBO Signatured, saya merasa kelebihan saya tersebut menguji saya untuk mengeluarkan energi besar saat sebuah perasaan atau penghayatan membutuhkan kontrol tinggi agar tidak mempengaruhi beban pikiran saya. Film ini bercerita tentang sebuah kisah kematian oleh sebuah misteri kematian yang belum terungkapkan. Mungkin kita mengenal sebagai "arwah penasaran". Apapun istilahnya, bukan itu yang saya ingin ceritakan hehe.
Dalam film ini diceritakan banyak sekali serangan-serangan psikologis sebelum kematian itu datang. Benarkah psikologis begitu besar serangannya hingga merasa tidak ada lagi yang bisa dilakukan di dunia ini kecuali menjemput kematian. Rasaya semua sudah berakhir saat psikologis itu menyerang.
Di film tersebut sempat keluar kata-kata "nilai spiritual" saat seorang pendeta hendak mengeluarkan "arwah penasaran" dari objek yang diduga mengalami gangguan psikologis. Artinya saya ingin menarik kesimpulan sedikit, bahwa apapun yang terjadi jangan lupakan sebuah spiritualitas yang sudah seharusnya mengontrol kita dari dalam sebelum emosional dan intelektulitas membentuk suatu aktifitas nyata.

Terlepas dari nilai spiritual, saya ingin bercerita sedikit tentang diri saya. Terkait dengan cerita diatas soal saya yang berteman cukup akrab dengan televisi. Terkait juga sebuah mimpi saya bisa melakukan sesuatu untuk orang lain, yang dimulai dari diri saya sendiri hingga perjuangan saya bisa sampai pada perjuangan Merah Putih yang akan selalu berkibar walaupun angin besar menerjang di tiang tertinggi sana. saya merasa telah lebih mengenal siapa saya setelah saya mengenal nilai spiritual. Luar biasa hingga saya merasakan perubahan dalam pengendalian diri walaupun belum significant, tapi inilah nilai proses yang harus dinikmati. ALhamdulillah saya pun mulai bisa dengan tenang menulis untuk menuangkan sesuatu yang bisa saya bagi kepada orang lain walau saya bukan siapa siapa.

Cerita saya ini benar-benar terlintas saat saya menonton film "one missed call" yang saya cerirtakan diatas tadi. Kok saya merasa mendapatkan jawaban untuk diri saya sendiri. Saya merasa wah lagi lagi menonton film thriller horor begini akan membuat saya keringet dingin hingga sesak nafas seperti biasa. Namun kok saya bisa mengendalikan diri bahkan berusaha mengambil sebuah nilai yang mungkin bisa berguna khususnya untuk saya umumya untuk orang lain.
Saat saya menonton banyak sekali input yang saya terima untuk dirangsang oleh otak lalu otak seperti memerintahkan sebuah pergerakan dalam diri sampai pergerakan fisik seperti keringetan yang tadi saya paparkan diatas. Rasanya saya mulai bisa memetakan apa yang harus saya perbaiki dan katakan kepada orang lain. Dulu saat saya SD orang tua saya sering sekali keluar kota demi mencapai target MLM yang dijalaninya, saat itu yang saya tahu papa mama bukan menginggalkan saya, tapi berusaha mencari uang agar saat pulang kerumah saya bisa punya mainan atau hal yang saya inginkan lainnya. Saat saya ditinggal oleh mereka di rumah, seperti yang saya bilang televisi merupakan teman saya. Sekarang saya merasa beragam tayangan televisi yang saya cerna tanpa sadar telah membangun Perasaan dan Penghayatan saya hingga seperti ini. Banyak orang yang bilang "kebanayakan nonton film sih" kalau ada yang seorang bercerita kepadanya kisah melankolinya. Ya mungkin itu yang saya alami, saya kebanyakan nonton film. Apalagi tanpa bimbingan orang tua yang saat itu sering keluar kota mencari nafkah. Rasanya ingin bisa memperbaiki saat itu, selama ini saya merasa saya adalah anak yang manja. Tapi saat ini saya ingin bisa menjadi anak yang lebih manja, yang bisa bercerita jujur dengan orang tua terhadap apa yang terjadi pada saya dimulai dari bercerita apa perasaan saya setelah menonton film dari judul A-Z. Loncat hingga saya beranjak SMP dan SMA, kali ini bukan orang tua saya yang lagi lagi kerja keluar kota. Namun saya yang sekolah diluar kota, dan ini mengambil banyak waktu dan kesempatan saya untuk bisa lebih jujur kepada mama papa untuk bisa bercerita untuk mengungkapkan apa saja perasaan saya.
Saya yang merasa manja ini ternyata tidak benar-benar manja terhadap orang tua karena saya tidak terlatih untuk bisa jujur kepada orang tua saya.
Woow ternyata dampaknya begitu besar. Saat ini saya masih merasa saya anak yang suka berimajinasi tinggi hingga terkadang mengganggu pikiran saya sendiri. Itu akibat saya tidak pandai mengungkapkan sesuatu dengan jujur. Saat saya bisa mengungkapkan dan berusaha memperbaiki diri saya, saya ingin bisa berbagi kepada orang lain. Saya belajar menulis agar bisa menghasilkan sesuatu dan berbuat sesuatu.

Gimana caranya biar saya bisa bercerita kepada banyak orang tentang (ini yang ada di pikiran saya saat ini) :
1. Anak bisa dengan enak share terhadap orang tua apa yang di rasakan
2. Anak bisa mengenali seperti apa keadaan dengan mengenal nilai spiritual
Full Post